...apasihbiotek.com

Newsflash


BIOFUEL (bahan bakar nabati) diyakini sebagai bahan bakar ramah lingkungan. Namun, para ilmuwan memperingatkan, adopsi besar-besaran biofuel bisa memicu masalah tersendiri, yakni kelangkaan air karena produksi biofuel dinilai sangat boros air.
Read more...
 
Advertisement
Advertisement

Event News

"Do a little more each day than you think you possibly can." --Lowell Thomas
Primata Transgenik Menjanjikan PDF Print E-mail
Written by SYAMSUL   
Saturday, 13 June 2009

ImageSelama ini pembuatan tikus transgenik berperan penting dalam pengembangan riset, terutama untuk melihat fungsi genetik dan mekanisme molekuler penyebab kondisi patologis. Namun, hasil riset yang memakai tikus sebagai hewan percobaan tak bisa langsung diterapkan pada manusia karena banyak perbedaan secara fisiologis dan anatomi dengan manusia. Perkembangan riset eksperimental tentang sejumlah penyakit butuh percobaan dengan memakai primata. Hal itu disebabkan hewan ini lebih dekat dengan manusia secara fungsional dan anatomi daripada hewan pengerat.

Hewan terkecil

Sejak 1980-an, para ilmuwan dari Badan Pusat Hewan Percobaan memakai ”marmosets” (Callithrix jacchus) sebagai model hewan percobaan. ”Marmosets” adalah hewan terkecil di antara primata dan punya tingkat fertilitas tinggi. Secara berkelanjutan, lembaga itu memakai monyet sebagai hewan percobaan dalam penelitian.

Beberapa tahun terakhir ini, kelompok peneliti yang dipimpin Erika Sasaki, Kepala Laboratorium Badan Pusat Hewan Percobaan, dan Prof Hideyuki Okano dari Fakultas Kedokteran Universitas Keio mengadakan riset bersama. Hal ini untuk membuat model hewan percobaan tingkat lanjut demi kepentingan riset.

Dalam riset yang dimuat pada situs Japan Science and Technology Agency itu, gen yang mengode protein berpendar hijau (green fluorescent protein/ GFP) diisolasi dan diinjeksi dengan vektor virus lalu dimasukkan ke dalam embrio monyet melalui inseminasi buatan. Embrio dengan gen GFP itu dikultur beberapa hari, hanya embrio yang mengekspresikan gen GFP yang dimasukkan ke rahim induk monyet pengganti. Metode ini untuk memastikan kelima monyet yang lahir adalah transgenik.

Percobaan itu berhasil ketika gen itu menurun pada anak- anak monyet yang dilahirkan. Tak semua hewan selamat saat tubuhnya dimasuki gen asing. Bagi yang berhasil, gen itu diturunkan kepada anak-anaknya. Hal ini berarti gen itu bisa dikembangkan melalui proses reproduksi biasa.

Monyet transgenik itu bisa digunakan untuk mempelajari penyakit. Menurut Hideyuki Okano sebagaimana dikutip dalam Nature.com, penemuan ini memberi harapan pada penyakit keturunan. Ia juga berencana memakai metode transgenik untuk mempelajari penyakit parkinson dan amyotrophic lateral sclerosis.

Sebelumnya, belum ada riset yang berhasil menciptakan hewan primata transgenik generasi kedua dan tak ada bukti ilmiah ekspresi gen dalam jaringan maupun transmisi gen asing ke sel reproduksi primata transgenik. Jadi, penemuan itu pertama kali di dunia dan amat penting dalam pengembangan bioteknologi.

Menurut peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Arief Witarto, pemakaian hewan transgenik, antara lain, bertujuan menghindari pembunuhan hewan percobaan karena gen bisa ditempatkan pada organ tertentu, misalnya kelenjar susu. ”Karena secara biologi molekuler primata mendekati manusia, ada kekhawatiran nanti dibuat manusia transgenik,” ujarnya.

Perpindahan gen

Rekayasa genetik adalah rangkaian teknik untuk mengisolasi, memodifikasi, menggandakan, dan merekombinasi gen dari organisme berbeda. Menurut ilmuwan biologi molekuler, Mae Wan Hoo, dalam bukunya, teknik ini memungkinkan perpindahan gen antarspesies berbeda yang tak mungkin saling kawin secara alamiah, misalnya gen ikan dimasukkan ke dalam tomat dan gen manusia dipindahkan ke domba.

Teknologi ini dirancang untuk mematahkan halangan antarspesies dan melemahkan mekanisme pertahanan spesies. Rekayasa genetik tanaman dan hewan dimulai pada pertengahan 1970-an yang dipicu penemuan beberapa teknik kunci dalam genetika molekuler.

Agar dapat memanipulasi, menyalin, dan memindahkan gen, para pakar rekayasa genetik menggunakan parasit-parasit genetik yang direkombinasi. Menurut Mae Wan Hoo, ini justru bisa menyebabkan penyakit, termasuk kanker dan parasit lain, menyebarkan gen virulen dan gen yang kebal antibiotik.

Sejumlah aplikasi rekayasa genetik dalam genetika dan pengobatan punya implikasi bagi etika dan kesehatan, baik untuk manusia maupun hewan. Secara etis, aplikasi itu bisa menimbulkan diskriminasi genetik berdasarkan uji diagnostik dan berdampak negatif pada kesejahteraan hewan.

Aplikasi itu juga dikhawatirkan menimbulkan epidemi lintas spesies akibat rekombinasi antara virus hewan dan manusia, risiko reaksi imunitas serius dari vektor dalam terapi gen. Risiko lain adalah penciptaan supervirus lintas spesies, kanker, penyakit baru dari obat dan vaksin hasil rekayasa genetik.

Penemuan monyet transgenik baru-baru ini diharapkan jadi terobosan dalam pengembangan terapi untuk mengatasi gangguan saraf otak. Mengingat sejumlah risiko yang ditimbulkan, penggunaan bioteknologi itu perlu dilakukan dengan hati-hati dan aman bagi lingkungan. (Kompas)

 
< Prev   Next >
Bookmark and Share
Syamsul Komar's Facebook profile

Website design service by Sakha. Outsourcing by FreelanceWebmarket.