...apasihbiotek.com

Newsflash


HUTAN di belahan dunia terancam habis. Penebangan liar membabat hutan semena-mena. Hutan gundul. Lingkungan rusak. Pemanasan global pun mengancam. Para ahli pun memikirkan bagaimana mengeksploitasi hutan dengan meminimalisasi kerusakan lingkungan. Rekayasa teknologi pun dibuat. Jadilah Super Tree, pohon hasil rekayasa genetik. Pohon ini tumbuh besar hanya dalam waktu enam bulan. Kayu untuk kebutuhan industri pun terpenuhi.
Read more...
 
Advertisement
Advertisement
Mari Membuat Sperma! PDF Print E-mail
Written by SYAMSUL   
Monday, 21 April 2008

Untuk pertama kalinya, rekayasa genetika berhasil membiakkan tikus dari sperma hasil rekayasa genetika.  Bagaimana sperma tercipta? Para ahli biologi molekuler belum sepenuhnya memahami. Padahal banyak masalah terkait dengan ini. Misalnya, paling sederhana, kemandulan pria.

 Nah, sekelompok ilmuwan sudah berhasil membuat sperma di dalam laboratorium. Untuk membuat sperma, tentu ada bahan bakunya. Bahan baku ini diambil dari embrio (kandungan yang baru beberapa hari umurnya) dari kandungan tikus.

Sperma buatan yang dihasilkan, tentu saja, sperma tikus, yang bisa dipakai untuk membuahi tikus betina lain, muncul embrio baru, dan hasilnya tujuh ekor tikus kecil.

Tujuh tikus itu menjadi binatang pertama yang lahir dari hasil pembuahan sperma buatan laboratorium. Tikus hasil sperma buatan ini hidup sampai dewasa meski tidak sepenuhnya normal.

Terobosan teknologi rekayasa genetika dengan memanfaatkan sel dari embrio ini--disebut teknik sel cangkok atau stem cell--membuka peluang untuk menyembuhkan pria mandul. Nantinya mungkin juga bisa dilakukan proses seperti klon, membuat keturunan berdasarkan satu individu, meski caranya sedikit berbeda.

Proyek ini dilakukan Karim Nayernia, yang baru mulai menjadi profesor di bidang biologi sel cangkok di Universitas Newcastle, Inggris, saat masih menjadi peneliti di Universitas Georg-August, Gottingen, Jerman. Ia melakukan riset bersama Profesor Wolfgang Engel dari Jerman dan Dr David Elliott dari Lembaga Genetika Manusia di Universitas Newcastle.

Profesor Nayernia membuat sperma dari embrio tikus berusia beberapa hari. Sel embrio itu--embrio dipilih karena sel-selnya lengkap, menyimpan semua informasi bagian tubuh--dipilah-pilah berdasarkan fungsinya. Salah satu sel menghasilkan sperma. Begitu sperma jadi, tinggal membuahi sel telur seekor tikus perempuan. Jadilah tujuh ekor tikus kecil.

"Untuk pertama kalinya kita berhasil membuat sperma dalam tabung, dan menggunakan sperma itu untuk membuahi sel telur, serta membuat binatang bisa melahirkan," kata Karim Nayernia.

Hasil penelitian ini memungkinkan para ahli memahami proses terciptanya sperma. Para ahli sampai saat ini masih buta proses terciptanya sperma sehingga tidak tahu mengapa ada pria yang mandul. "Jika kita memahami ini, kami bisa memecahkan masalah kesuburan pria," kata Nayernia.

Nayernia berharap bisa membuat sperma dari sel cangkok perempuan dan, mungkin, nantinya membuat sel telur dari sel cangkok. Jika ini benar dilakukan, satu pria bisa membuat sel telur dan sperma sendiri. Setelah mereka dicampur, hasilnya ada embrio. Mirip proses klon tapi dengan teknik berbeda.

Teknik klon, seperti domba Dolly, dilakukan dengan membuat embrio yang berisi hanya inti sel dari individu yang akan diklon. Biasanya embrio berasal dari sel kedua binatang induk. Berbeda dengan cangkok sel yang berkonsentrasi membuat sperma sebelum dipakai untuk membuahi sel telur individu lain.

Bukan pertama kali ada ahli yang berhasil membuat sperma dari sel induk. Tapi baru Nayernia dan teman-temannya yang berhasil membuahi seekor binatang dari sperma buatan tabung ini.

Keberhasilan Nayernia ini baru tahap pertama sebelum proses ini sampai ke pengobatan pria mandul. Masih jauh. Salah satu soal yang muncul adalah ketidaksempurnaan anak-anak tikus itu. Mereka mengalami masalah seperti binatang hasil klon.

Semua binatang yang dibuahi sperma rekayasa itu mandul. Mereka mengalami kesulitan pernapasan. Kalaupun tidak, tikus-tikus kecil itu susah berjalan. Yang mencolok, anak tikus itu, kalau tidak terlalu besar, ya, terlalu kecil dibanding yang normal.

Seperti binatang hasil klon, yang cepat tua dan mati, para tikus itu paling tua hanya mencapai umur lima bulan. Padahal tikus normal bisa hidup sampai dua tahun.

Nayernia menduga-duga, mungkin masalah ini datang akibat ketidaksempurnaan saat ia dan timnya menciptakan sperma. Yang jelas, katanya, "Kita butuh kerja lebih banyak lagi sebelum bisa dipastikan ini bakal aman bagi manusia."

Jadi si profesor kelahiran Iran ini sekarang memusatkan perhatian untuk memperbaiki kualitas sperma rekayasa. Targetnya mengurangi cacat bawaan binatang. www.ncl.ac.uk

 
< Prev   Next >
Bookmark and Share
Syamsul Komar's Facebook profile

Website design service by Sakha. Outsourcing by FreelanceWebmarket.